PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PEMBUATAN REPELAN HERBAL BUNGA KECOMBRANG UNTUK PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI DESA LAM GAPANG ACEH BESAR

Siti Samaniyah, Finaul Asyura, Syarifah Asyura, Chairanisa Anwar, Fitria Fitria

Abstract


Abstrak
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Aceh Besar. Tingginya populasi nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama DBD memerlukan upaya pencegahan yang efektif, aman, dan ramah lingkungan. Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan adalah penggunaan repelan herbal berbahan alami, seperti bunga kecombrang (Etlingera elatior) yang diketahui memiliki kandungan metabolit sekunder berpotensi sebagai penolak nyamuk. Tim dosen Ilmu Kesehatan dan mahasiswa Universitas Ubudiyah Indonesia melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Lam Gapang, Aceh Besar melalui program pemberdayaan masyarakat dalam pembuatan repelan herbal bunga kecombrang. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman lokal sebagai upaya pencegahan DBD serta mendorong perilaku hidup sehat berbasis kearifan lokal. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi pembuatan repelan herbal, pelatihan praktik langsung, dan evaluasi pemahaman peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya DBD dan manfaat bunga kecombrang sebagai bahan alami penolak nyamuk. Selain itu, masyarakat mampu mempraktikkan secara mandiri proses pembuatan repelan herbal sederhana yang aman digunakan di lingkungan rumah tangga. Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan DBD secara berkelanjutan serta meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam lokal yang bernilai kesehatan dan ekonomis bagi masyarakat Desa Lam Gapang.
Kata kunci: pemberdayaan masyarakat, repelan herbal, bunga kecombrang, Demam Berdarah Dengue, pencegahan DBD.
Abstract
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is one of the environmental-based diseases that remains a public health problem in Aceh Besar Regency. The high population of Aedes aegypti mosquitoes as the primary vector of DHF requires prevention efforts that are effective, safe, and environmentally friendly. One alternative that can be developed is the use of herbal repellents made from natural ingredients, such as torch ginger (Etlingera elatior), which is known to contain secondary metabolites with potential mosquito-repellent activity. A team of lecturers conducted a community service program in Lam Gapang Village, Aceh Besar through a community empowerment initiative focused on the production of herbal torch ginger repellent. This activity aimed to improve community knowledge and skills regarding the utilization of local plants as an effort to prevent DHF and to promote healthy living behaviors based on local wisdom. The implementation methods included health education, demonstrations of herbal repellent preparation, hands-on practical training, and evaluation of participants’ understanding. The results of the activity showed an increase in community knowledge regarding the dangers of DHF and the benefits of torch ginger as a natural mosquito repellent. In addition, community members were able to independently practice the process of making simple herbal repellents that are safe for household use. This activity is expected to support sustainable DHF prevention efforts and enhance the utilization of local natural resources with health and economic value for the people of Lam Gapang Village.
Keywords: community empowerment, herbal repellent, torch ginger, Dengue Hemorrhagic Fever, DHF prevention

Keywords


community empowerment, herbal repellent, torch ginger, Dengue Hemorrhagic Fever, DHF prevention

Full Text:

PDF

References


REFERENSI

Arifah dan P. Lestari, “Pemanfaatan Tanaman Herbal sebagai Repelan Alami Nyamuk Aedes aegypti,” Jurnal Farmasi dan Kesehatan Indonesia 8, no. 1 (2021): 22–29.

Hasanah et al., “Aktivitas Minyak Atsiri Bunga Kecombrang (Etlingera elatior) terhadap Nyamuk Aedes aegypti,” Jurnal Biologi Tropis 20, no. 3 (2020): 145–152.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023 (Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2023).

Kurniawati dan M. Sari, “Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan DBD Berbasis Lingkungan,” Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat 6, no. 2 (2022): 67–74.

Naufalin et al., “Phytochemical Compounds and Bioactivity of Etlingera elatior as Natural Repellent,” Journal of Tropical Medicinal Plants 12, no. 2 (2020): 45–52.

Pratiwi et al., “Efektivitas Repelan Herbal terhadap Daya Tolak Nyamuk Penyebab Demam Berdarah Dengue,” Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia 20, no. 1 (2021): 33–40.

Rahmawati dan S. Fitriani, “Effectiveness of Practical Training Methods in Improving Community Skills,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan 5, no. 1 (2021): 44–50.

Sari dan D. Yuliana, “Edukasi Kesehatan dan Pemanfaatan Tanaman Lokal dalam Pencegahan Demam Berdarah Dengue,” Jurnal Abdimas Kesehatan 4, no. 2 (2023): 88–95.

Susanti et al., “Community-Based Health Education in Dengue Prevention Programs,” Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia 17, no. 2 (2022): 85–92.

World Health Organization (WHO), Global Strategy for Dengue Prevention and Control (Geneva: WHO, 2022).


Refbacks

  • There are currently no refbacks.